Sabtu, 23 Juli 2022

KONSEP BUKU NONFIKSI

 



Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Pertemuan ke-14, Gelombang 26

Tema                    : KONSEP BUKU NONFIKSI

Narasumber      : Musiin, M.Pd

Moderator          : Lely Suryani

 

Narasumber malam ini merupakan alumni kelas menulis gelombang ke-8. Pada dasarnya beliau dulu adalah peserta pelatihan yang memiliki kemampuan seperti peserta di kelas ini, pemateri memulainya dari nol. Pada awalnya beliau tidak pernah bermimpi untuk bisa menulis buku, namun ternyata kelas menulis Om Jay membawanya menjadi seorang penulis buku. Kata Prof Rhenaldi Kasali, kalau kita berpikir secara Opportunity Based, kita akan  selalu yakin ada pintu di tengah tembok rintangan.  Menulislah setiap hari, maka keajaiban akan datang. akhirnya beliau semakin giat menulis dan menghasilkan tulisan-tulisan yang tentunya sangat bermanfaat bagi orang banyak.

Ketika menulis ada hal-hal yang menimbulkan rasa khawatir atau pun takut akan hasil yang didapat. Beliau memiliki ketakutan ketika menulis antara lain;

1.       Merasa karya orang lain lebih bagus.

2.       Takut salah dalam menyampaikan pendapat melalui tulisan.

3.       Takut tidak ada yang membaca.

Akan tetapi semua itu dapat diatasi oleh beliau hingga saat ini telah melahirkan beberapa buku diantaranya Literasi Digital Nusantara.

Kegiatan menulis bukan sebuah perkara mudah. Berdasarkan berbagai penelitian menunjukkan bahwa kegiatan menulis itu adalah sebuah kegiatan yang paling sulit. Menurut pandangan sebagian orang, menulis itu merupakan sebuah momok yang sangat menakutkan. Hal ini disebabkan menulis harus menghasilkan dan mengeluarkan ide seseorang. Pada dasarnya setiap  orang mempunyai wawasan bahkan pengetahuan, dan keterampilan dalam hidupnya. Kembali pada kemampuan orang tersebut mau diwujudkan dalam sebuah buku atau tidak. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Menurut beliau dalam menulis buku nonfiksi ada beberapa pola yang dapat digunakan. Berikut adalah  3 pola dalam penulisan buku nonfiksi;

1.       Pola Hierarkis (Buku disusun berdasarkan tahapan dari mudah ke sulit atau dari sederhana ke rumit). Contoh: Buku Pelajaran

2.       Pola Prosedural (Buku disusun berdasarkan urutan proses). Contoh: Buku Panduan. 

3.       Pola Klaster (Buku disusun secara poin per poin atau butir per butir. Pola ini diterapkan  pada buku-buku kumpulan tulisan atau kumpulan bab yang dalam hal ini antar bab setara). 

Setelah kita mengetahui pola pengembangan yang dapat digunakan dalam menulis buku nonfiksi ada baiknya mengetahui Langkah-langkah dalam Menyusun buku nonfiksi.

Langkah-langkah dalam menulis buku nonfiksi :

Langkah Pertama

Pratulis

a.     Menentukan tema

b.     Menemukan ide

c.      Merencanakan jenis tulisan

d.     Mengumpulkan bahan tulisan

e.     Bertukar pikiran

f.      Menyusun daftar

g.     Meriset

h.     Membuat Mind Mapping

i.       Menyusun kerangka

Dalam sebuah buku, tema cukup satu saja. Untuk buku nonfiksi tema yang sesuai seperti parenting, pendidikan, motivasi dll. Untuk melanjutkan dari tema menjadi sebuah ide yang menarik, penulis bisa mendapatkan dari berbagai hal, contohnya:

a.       Pengalaman pribadi

b.       Pengalaman orang lain

c.       Berita di media massa

d.       Status Facebook/Twitter/Whatsapp/Instagram

e.       Imajinasi

f.        Mengamati lingkungan

g.       Perenungan

h.       Membaca buku

i.         Survey

j.         Wawancara

Referensi berasal dari data dan fakta yang saya peroleh dari literasi di internet.

Referensi penulisan buku bisa dari sumber berikut ini.

1.       Pengetahuan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;

2.       Keterampilan yang diperoleh secara formal , nonformal , atau informal ;

3.       Pengalaman yang diperoleh sejak balita hingga saat ini ;

4.       Penemuan yang telah didapatkan.

5.       Pemikiran yang telah direnungkan

Langkah ke dua

Tahap berikutnya membuat kerangka.Kerangka ini saya ajukan ke Prof. Eko dan disetujui untuk melanjutkan ke proses penulisan. Sebelum menulis kerangka ada baiknya menulis draf tulisan.  

a.        Menuangkan konsep tulisan ke tulisan dengan prinsip bebas

b.       Tidak mementingkan kesempurnaan, tetapi lebih pada bagaimana ide dituliskan

Langkah ketiga

Merevisi Draf

a.        Merevisi sistematika/struktur tulisan dan penyajian

b.       Memeriksa gambaran besar dari naskah.

Langkah keempat 

Menyunting naskah (KBBI dan PUEBI)

a.        Ejaan

b.       Tata bahasa

c.        Diksi

d.       Data dan fakta

e.        Legalitas dan norma

Dalam menghasilkan buku nonfiksi tidak bisa lepas dari hambatan. Hambatan yang berpotensi terjadi dalam menulis buku nonfiksi sebagai berikut.

a.        Hambatan waktu

b.       Hambatan kreativitas

c.        Hambatan teknis

d.       Hambatan tujuan

e.        Hambatan psikologis

Buku nonfiksi adalah buku yang ditulis berdasarkan kenyataan atau fakta. Pendapat lain mengatakan bahwa buku nonfiksi adalah karangan yang dibuat berdasarkan kejadian nyata, atau disusun berdasarkan fakta. Contoh buku nonfiksi yang umumnya kita ketahui yakni esai, jurnal, karangan ilmiah atau biografi. Buku nonfiksi merupakan buku yang berisi kejadian sebenarnya dan bersifat informatif.

Dalam menulis buku nonfiksi, bahasa yang digunakan adalah bahasa denotatif atau bermakna  sebenarnya, jadi pembaca dapat langsung memahami maksud dari isi buku. Oleh karena itu, buku nonfiksi sering dijadikan sumber informasi oleh para pembaca.

 

Ciri-ciri buku nonfiksi adalah sebagai berikut.

a.        Bahasa yang digunakan formal dan baku.

b.       Isi berkaitan dengan fakta.

c.        Tulisan bersifat ilmiah populer 

d.       Isi diambil dari penelitian atau temuan yang sudah ada

Sebelum menulis buku nonfiksi, penulis harus harus mengadakan observasi dan riset. Sehingga muatan dalam nonfiksi dapat dibuktikan kebenarannya. Buku nonfiksi lebih populer di kalangan pembaca yang tidak terlalu hobi membaca, karna mereka membeli buku-buku tersebut terdesak oleh kebutuhan dan pengetahuan.

Jenis Buku Non Fiksi

a.          Buku Catatan Pelajaran

b.          Buku Teks

c.          Buku Pelajaran

d.          Buku Motivasi

e.          Buku Filsafat

f.           Buku Sains Populer

g.          Kamus

h.          Ensiklopedia

i.            Biografi

j.            Memoar

 

Buku nonfiksi bersifat factual. Mengapa demikian? Faktual tidak berkaitan dengan momen, namun lebih ke isi. Sedangkan aktual mengacu ke sesuatu yang sedang dibahas atau dibicarakan. Faktual bisa aktual, sedangkan aktual belum tentu faktual. Akan tetapi ada perbedaannya faktual bisa aktual sedangkan aktual belum tentu factual. Sesuatu yang berdasarkan fakta bisa bersifat kekinian, sedangkan berita kekinian belum tentu itu berdasarkan fakta, misalnya hoax yang berkembang di masyarakat.

 

Wassalamualaikum wr. wb

Salam literasi

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar