PELATIHAN
BELAJAR MENULIS
PERTEMUAN
KE-25
GELOMBANG
26
NARASUMBER : AAM NURHASANAH, S.Pd
MODERATOR : MUTMAINAH
Ada
empat keterampilan dalam literasi, yaitu: mendengar, berbicara, membaca, dan
menulis. Dari keempat keterampilan literasi itu, menulis merupakan keterampilan
literasi yang paling tinggi. Menulis itu tidak mudah namun apabila dilatih
terus-menerus maka suatu saat akan menjadi mudah. Menulis itu bukan seratus
persen sebuah bakat atau menulis bukan sebuah bakat, dengan selalu berusaha
menulis dan terus menulis maka lambat laun akan menjadi terampil. Tentu saja
dalam menulis tidak lepas dari kemampuan literasi yang lain terutama membaca.
Seorang penulis harus selalu membaca. Membaca di sini bukan saja yang tersurat,
tetapi juga yang tersirat, serta membaca berbagai macam suasana yang dihadapi
termasuk juga suasana emosional di sedang dihadapi.
Dengan
menulis berarti turut memberikan andil dalam suatu peradaban. Tanpa
meninggalkan tulisan seseorang akan semakin mudah dilupakan. “Orang boleh
pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari
siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi,
sampai jauh, jauh di kemudian hari, Pramudya Ananta Toer.
Mood
dan motivasi tidak datang setiap hari. Pada banyak kesempatan, kita harus
memaksanya keluar dari dalam diri untuk mengalahkan rasa malas dan setengah
hati.
Ketika
para amatir dan penulis pemula menunggu mood untuk bisa menulis, para penulis
profesional tetap menulis dalam kondisi apa pun suasana hati mereka. Mood atau
tidak, profesional akan tetap menulis, A Wan Bon.
Menjadi
penulis bisa dilakukan oleh siapa saja. Meski kita merasa tidak terlahir
sebagai penulis sekali pun. Penting untuk mengumpulkan keberanian dalam
melangkah. Bahkan penulis terbaik pun harus memulai dari bawah sebelum mereka
menjadi sukses.
Ketika
kita mengalami kegagalan pada tahap-tahap awal dalam menulis, jangan kita
jadikan sebuah sebuah akhir dari kegiatan menulis. Ketika gagal, berusaha lagi,
gagal lagi, berusaha lagi, dan terus berusaha. Maka yang demikian itu merupakan
sebuah proses. Sebuah produk itu tidak mungkin menjadi sempurna langsung. Pasti
melalui proses yang lama dan diproduksi berkali-kali dengan selalu merefleksi
dari segala sisi. Dalam menulis jangan takut berproses dan tidak mau belajar
dengan giat. Kalau mau berproses dan mau belajar dengan giat, pada akhirnya satu persatu mimpi pun pasti tercapai.
Jadikan kegagalan sebagai sebuah cambuk untuk bangkit dan meraih kesuksesan.
Semoga
bermanfaat.
Wassalamualaikum
wr. wb.
Salam
Literasi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar